BOLTIM-SM. Komisi 2 DPRD Kota Tomohon melanjutkan rangkaian kunjungan kerja ke Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), tepatnya di Dinas Pertanian yang berlokasi di Tutuyan, pada Kamis, 6 Februari 2026. Kunjungan tersebut masih mengangkat topik utama mengenai pengelolaan anggaran pertanian di daerah.
Anggota Komisi 2 DPRD Tomohon dari Fraksi PDI Perjuangan, Feky Kosmas Rumondor menjelaskan, persoalan yang dihadapi pemerintah daerah pada umumnya relatif sama, yakni keterbatasan anggaran akibat kebijakan pemotongan Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat.
“Masalah utama masih berkutat pada minimnya anggaran. Kondisi ini juga dirasakan oleh Dinas Pertanian Boltim, sehingga program-program strategis harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah,” ungkap Rumondor.
Meski demikian, menurutnya ada hal menarik yang dapat menjadi pembelajaran bagi Kota Tomohon. Di Kabupaten Boltim, melalui jalur proposal pada bidang perkebunan, pemerintah pusat akan menyalurkan bantuan untuk pengembangan 600 hektare tanaman pala dan 200 hektare kakao.
Ini yang menjadi perbedaan.
Boltim cukup agresif dalam mengakses bantuan pusat lewat proposal yang matang, sehingga mendapatkan dukungan nyata bagi petani,” jelas politisi PDI Perjuangan tersebut.
Dalam pertemuan itu, pihak Dinas Pertanian Boltim memaparkan potensi daerah yang dimiliki. Karakter wilayah Boltim dinilai memiliki kemiripan dengan Tomohon, terutama pada kawasan dataran tinggi yang menjadi sentra hortikultura dan kopi, seperti di wilayah Modayag dan sekitar Danau Mooat yang berbatasan dengan Modoinding. Selain itu, Boltim juga memiliki potensi wisata alam pegunungan, agrowisata, serta kuliner yang sangat menjanjikan untuk dikembangkan. Sementara di dataran rendah, sektor perkebunan kelapa, cengkih, pala, dan kakao menjadi komoditas unggulan. Potensi persawahan, wilayah pesisir, hingga sektor pertambangan turut menjadi penopang ekonomi masyarakat.
“Ekonomi warga Boltim saat ini sangat bergeliat, terutama karena aktivitas tambang rakyat di Ratatotok. Ini juga menjadi warna tersendiri dalam struktur ekonomi daerah,” tambah Rumondor.
Ia menegaskan, kunjungan kerja pada 6 Februari 2026 tersebut memberi banyak masukan berharga bagi Komisi 2 DPRD Tomohon, terutama terkait strategi mengembangkan potensi pertanian dan perkebunan serta cara efektif mengakses pembiayaan dari pemerintah pusat.
“Sharing potensi dan bagaimana mengembangkannya, khususnya dalam mengakses sumber pembiayaan dari pusat, menjadi masukan penting bagi kami untuk diterapkan di Kota Tomohon,” tutup Feky Kosmas Rumondor.
Kunjungan kerja ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antar daerah serta menjadi referensi bagi DPRD dan Pemerintah Kota Tomohon dalam merumuskan kebijakan pembangunan sektor pertanian yang lebih inovatif dan berpihak pada kesejahteraan petani.
Silakan langsung digunakan. Jika ingin ditambahkan kutipan lain atau nama anggota Komisi 2 yang ikut serta, saya bisa bantu sesuaikan kembali. (sob)