Jalan Tomohon–Tanawangko di Kelurahan Kolongan Tomohon Tengah, Kembali Makan Korban Jiwa, Warga Desak Perbaikan Permanen


TOMOHON-SM. Ruas Jalan Tomohon-Tanawangko tepatnya di Kelurahan Kolongan, depan RM 69, kembali memakan korban jiwa. Kecelakaan sepeda motor yang terjadi pada Kamis malam, 12 Februari 2026, berujung duka setelah seorang pengendara dilaporkan meninggal dunia akibat insiden tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kecelakaan diduga terjadi akibat kondisi jalan yang rusak parah. Di titik tersebut terdapat sejumlah lubang besar serta permukaan aspal yang tidak rata. Pada malam hari, minimnya pencahayaan membuat lubang-lubang tersebut sulit terlihat oleh pengendara, terutama roda dua yang sangat rentan kehilangan keseimbangan.

Warga sekitar menyebutkan, kerusakan di ruas jalan itu bukan persoalan baru. Perbaikan memang sudah beberapa kali dilakukan, namun hanya sebatas tambal sulam. Akibatnya, dalam waktu relatif singkat, lapisan tambalan kembali terkelupas dan lubang muncul lagi, bahkan semakin melebar.

Stenly Mamuaja, warga Kelurahan Kamasi yang hampir setiap hari melintasi jalur tersebut untuk bekerja, mengaku sudah lama merasa khawatir dengan kondisi jalan itu. Ia menilai penanganan yang dilakukan selama ini tidak menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.
“Sudah sering diperbaiki, tapi hanya ditambal seadanya. Tidak sampai beberapa bulan, sudah rusak lagi. Kami yang setiap hari lewat di sini selalu was-was, apalagi kalau hujan atau malam hari,” ujar Stenly.

Menurutnya, sebagai jalan penghubung strategis antara Tomohon dan Tanawangko, ruas tersebut memiliki mobilitas kendaraan yang cukup tinggi. Tidak hanya kendaraan pribadi, tetapi juga angkutan umum dan kendaraan pengangkut barang. Dengan intensitas lalu lintas seperti itu, perbaikan sementara dinilai tidak akan bertahan lama.

Hal senada disampaikan Reza Suratinoyo, warga Kelurahan Talete. Ia menegaskan bahwa kondisi jalan yang rusak parah sangat membahayakan keselamatan pengguna jalan, khususnya pengendara sepeda motor.
“Kalau siang saja sudah berbahaya, apalagi malam. Lubang tidak terlalu kelihatan, bisa tiba-tiba kena dan jatuh. Jangan tunggu ada korban lagi baru diperbaiki total,” tegas Reza.

Masyarakat mendesak agar persoalan ini menjadi perhatian serius pemerintah provinsi. Mengingat statusnya sebagai jalan provinsi, warga berharap adanya langkah konkret dan perbaikan permanen, seperti pengaspalan ulang secara menyeluruh atau peningkatan kualitas konstruksi jalan agar lebih tahan lama.

Secara khusus, warga meminta anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara, terutama yang terpilih dari daerah pemilihan Tomohon dan Minahasa, untuk memperjuangkan alokasi anggaran perbaikan jalan tersebut. Mereka menilai peran wakil rakyat sangat penting dalam mengawal aspirasi masyarakat agar tidak hanya berhenti pada keluhan semata.
“Ini menyangkut keselamatan dan nyawa manusia. Jangan sampai jalan yang seharusnya menjadi akses penghubung justru menjadi ancaman,” tambah Reza.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari instansi terkait mengenai jadwal atau rencana perbaikan permanen di lokasi tersebut. Warga berharap, kejadian tragis ini menjadi yang terakhir dan menjadi momentum bagi pemerintah untuk segera mengambil tindakan nyata. (sob)