Keluhan Dari Kaki Gunung Awu Untuk Para Pendaki

Sangihe, SMC – Salah satu Gunung Api yang terkenal sebagai gunung paling mematikan keempat di Indonesia adalah Gunung Awu dengan ketinggian 1320 mdpl (meter dari permukaan laut) yang terletak di Kepulauan Sangihe, gunung ini juga termasuk gunung yang mempunyai masa istirahat yang panjang sejak terakhir erupsi di bulan Juni tahun 2004.

Gunung Api Awu sendiri menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik bagi para anak muda terutama dikalangan para Penggiat Alam atau Pencinta Alam.
Jalur Pendakian untuk mendaki ke Gunung Awu yang sering dilewati yaitu Pensu salah satu pemukiman warga yang terletak di Kelurahan Pananekeng, Kecamatan Tahuna Barat Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Namun seiring menjamurnya para pendaki yang kurang paham dengan makna dari pendakian itu sendiri, dampak negatif itu dirasakan oleh warga setempat yang mempunyai kebun di bawah kaki gunung Awu.

Kepala Lingkungan (Kaling) 3 Pensu ketika menghadiri Rapat antar Ketua Rukun Tetangga (RT) dan Kepala Lingkungan (Kaling) bersama Lurah setempat, beliau mengungkapkan permasalahan yang terjadi diwilayahnya.

”Di kebun Nena, ada beberapa tanaman yang rusak itu salah salah jalur yang sering dilewati oleh para adik- adik pendaki. Sangat disayangkan hal seperti itu terjadi membuat beberapa warga yang mempunyai kebun merasa marah dan tidak suka” ungkap Kaling 3 Pitson Lambanaung.

Menyikapi akan hal itu, Lurah Pananekeng Stefly Tamalawe, S.IP menghimbau untuk para adik- adik pendaki baik dari dalam atau dari luar daerah sangihe agar bisa menjaga kelestarian hutan maupun kebun garapan dari warga.

”Ini hanya himbauan saja ketika banyak pendaki yang melalui jalur pendakian melewati jalan pensu untuk dapat menjaga kelestarian hutan maupun kebun garapan dari warga pananekeng takutnya nanti jika mereka tidak mengindahkan himbauan kami, masyarakat menjadi marah dan ketika mereka kembali melewati jalur pendakian dari jalan pensu akan terjadi hal- hal yang tidak diinginkan atau tidak diizinkan lagi untuk lewat jalur pensu”, Ujar Tamalawe.

Dikatakan juga oleh Tamalawe bahwa akhir- akhir ini begitu banyak pendaki yang sering mendaki Gunung Awu yang masih tergolong umur belasan yang sempat melapor.

”Apalagi dalam beberapa hari ini ada beberapa anak pendaki yang datang melapor untuk melakukan pendakian ke gunung Awu yang tergolong masih dalam usia belasan tahun. Hal ini tentu membuat kami sebagai pemerintah setempat merasa bertanya- tanya apakah orang tua mereka mengetahui hal tersebut?, jadi saya tetap mengingatkan sebisa mungkin harus ada minimal 1 atau 2 orang dewasa yang mendapimpingi mereka menjaga agar terhindar dari hal- hal buruk yang tidak diinginkan,” tutup Tamalawe.

 

(R i j a n i)