Tomohon-SM. Sebuah unggahan di media sosial yang mempertanyakan sosok Osco Olfriady Letunggamu, yang balihonya belakangan tersebar di berbagai titik di Kota Tomohon, memicu beragam tanggapan dari warganet. Namun, perhatian publik justru bergeser pada respons akun Nisia Moraya Tewu, yang disebut-sebut sebagai interpreter atau pihak yang mewakili Osco, meski hingga kini belum ada pernyataan resmi yang mengonfirmasi peran tersebut.
Pertanyaan mengenai siapa Osco dinilai sebagai sesuatu yang wajar. Kehadiran baliho dalam jumlah besar di ruang publik tentu menimbulkan rasa ingin tahu masyarakat mengenai identitas, latar belakang, maupun kontribusi sosok yang diperkenalkan.
Dalam konteks tersebut, masyarakat pada dasarnya hanya menginginkan penjelasan yang baik agar dapat mengenal sosok yang dimaksud.
Namun, respons akun tersebut justru menuai sorotan.
Selain membagikan foto yang memperlihatkan donasi sebesar Rp100 juta yang disebut diberikan Osco untuk mendukung pelaksanaan Tomohon International Flower Festival (TIFF), akun tersebut juga menulis, “Mo bkg ngoni p kota maju mar otak masih primitif. MIRIS.”
Unggahan tersebut memicu reaksi dari sejumlah warganet karena dinilai memberikan kesan merendahkan masyarakat Tomohon. Penggunaan istilah “otak masih primitif” dianggap tidak mencerminkan etika komunikasi yang santun, terlebih jika benar disampaikan oleh seseorang yang berbicara atau mewakili sosok yang sedang diperkenalkan kepada publik.
Banyak pihak juga menilai tidak ada relevansinya mengunggah foto donasi Rp100 juta sebagai jawaban atas pertanyaan masyarakat. Substansi yang dipertanyakan bukanlah besaran bantuan yang diberikan, melainkan siapa sebenarnya Osco Olfriady Letunggamu.
Penjelasan mengenai latar belakang, rekam jejak, serta kontribusinya dinilai jauh lebih tepat dibandingkan mempertontonkan nominal bantuan yang justru berpotensi mengalihkan fokus dari pertanyaan utama masyarakat.
Dalam komunikasi publik, terlebih ketika seseorang berbicara atas nama atau mewakili tokoh tertentu, pilihan kata menjadi hal yang sangat penting. Cara penyampaian bukan hanya mencerminkan pribadi yang berbicara, tetapi juga dapat memengaruhi citra pihak yang diwakilinya. Karena itu, jawaban yang santun, informatif, dan menghargai masyarakat akan lebih mudah diterima dibandingkan respons yang bernada emosional atau mengandung ungkapan yang berpotensi menyinggung.
Banyak kalangan berpendapat, apabila benar akun tersebut merupakan interpreter atau representasi Osco Olfriady Letunggamu, maka kesempatan itu seharusnya dimanfaatkan untuk memperkenalkan sosok Osco kepada masyarakat secara terbuka dan beradab. Pertanyaan publik semestinya dipandang sebagai bentuk ketertarikan dan keingintahuan, bukan sebagai serangan yang harus dibalas dengan emosi.
Pada akhirnya, masyarakat Tomohon hanya ingin memperoleh penjelasan yang layak mengenai sosok yang wajah dan namanya terpampang di berbagai baliho. Bertanya karena belum mengenal seseorang bukanlah sebuah kesalahan. Sebaliknya, menjawab dengan santun, menghormati masyarakat, dan mengedepankan etika komunikasi merupakan cara yang paling tepat untuk membangun kepercayaan serta citra positif bagi pihak yang diwakili. (sob)