TOMOHON-SM. Ajang Open Tournament TIDAR Drag Race & Drag Bike Championship 2026 di Kotavmobagu, Sulawesi Utara, berubah menjadi tragedi setelah salah satu mobil peserta kehilangan kendali dan menghantam sejumlah penonton.
Peristiwa yang terjadi di kawasan Kelurahan Upai, Kotamobagu, Minggu (9/8/2026), tersebut menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Berdasarkan perkembangan informasi yang diberitakan sejumlah media, korban meninggal dunia mencapai delapan orang, sementara sembilan lainnya mengalami luka-luka.
Kecelakaan terjadi ketika mobil peserta melaju dalam kecepatan tinggi sebelum keluar dari lintasan dan menghantam area yang berada di sekitar penonton.
Tragedi ini kemudian memunculkan berbagai spekulasi mengenai penyebab kendaraan bisa kehilangan kendali. Namun, penyebab pasti kecelakaan tentunya masih membutuhkan pemeriksaan dan investigasi secara menyeluruh.
Salah satu pandangan datang dari pembalap senior Rein Marentek, yang mencoba melihat kejadian tersebut dari perspektif teknis seorang pembalap.
Menurut Rein, terdapat setidaknya dua kemungkinan yang patut menjadi perhatian dalam mengungkap penyebab kecelakaan.
Pertama, kemungkinan adanya gangguan pada sistem pengereman kendaraan.
Kedua, kondisi permukaan lintasan atau kontur aspal yang sedikit berombak atau tidak sepenuhnya rata, yang dalam kondisi tertentu dapat memengaruhi kestabilan kendaraan ketika melaju dalam kecepatan tinggi dan kemudian melakukan pengereman.
Menurut Rein, kendaraan yang sedang melaju sangat cepat membutuhkan traksi dan kestabilan yang optimal. Ketika pengereman dilakukan, terjadi perpindahan beban kendaraan yang dapat memengaruhi keseimbangan mobil.
Apabila kondisi tersebut kemudian bertemu dengan permukaan lintasan yang tidak sepenuhnya rata, stabilitas kendaraan dapat terganggu.
Bagaimana dengan Dugaan Rem Tangan?
Rein juga menanggapi spekulasi yang beredar bahwa pembalap sengaja menarik rem tangan untuk membuat kendaraan berputar.
Menurut pembalap yang akrab disapa Rema tersebut, dugaan itu tidak bisa begitu saja dijadikan kesimpulan.
Dari perspektif seorang pembalap profesional, menurutnya, melakukan manuver menggunakan rem tangan ketika kendaraan sedang berada dalam kecepatan sangat tinggi merupakan tindakan yang memiliki risiko sangat besar.
Karena itu, menurut Rein, tidak masuk akal jika seorang pembalap profesional secara sengaja melakukan tindakan tersebut dalam kondisi kecepatan tinggi tanpa alasan teknis yang jelas.
Dalam situasi seperti itu, kendaraan dapat kehilangan traksi dan menjadi jauh lebih sulit dikendalikan. Risiko terhadap pembalap sendiri juga sangat besar.
Karena itu, menurutnya, apa yang terlihat dari sebuah rekaman video tidak serta-merta dapat diterjemahkan sebagai tindakan sengaja menarik rem tangan.
Untuk memastikan hal tersebut, dibutuhkan pemeriksaan teknis terhadap kendaraan dan rekaman kejadian secara menyeluruh.
Satu hal lain yang juga perlu menjadi perhatian adalah proses scrutineering yang dilakukan sebelum perlombaan.
Dalam olahraga otomotif, scrutineering merupakan tahapan pemeriksaan teknis dan keselamatan terhadap kendaraan sebelum mengikuti perlombaan. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kendaraan memenuhi regulasi teknis serta persyaratan keselamatan yang telah ditetapkan penyelenggara atau regulator perlombaan.
Pemeriksaan tersebut dapat mencakup berbagai komponen, antara lain sistem pengereman, kemudi, ban, suspensi, perlengkapan keselamatan dan bagian kendaraan lainnya sesuai regulasi yang berlaku.
Namun, menurut Rein, fakta bahwa kendaraan telah menjalani scrutineering tidak otomatis berarti kondisi kendaraan akan tetap sama hingga saat perlombaan.
Pasalnya, setelah pemeriksaan tersebut, kendaraan masih dapat digunakan untuk uji coba atau testing lintasan.
Pada saat testing, kendaraan kembali bekerja dalam kondisi ekstrem. Sistem pengereman, ban, suspensi, mesin dan berbagai komponen lainnya kembali menerima beban yang cukup besar. Karena itu, menurut Rein, bukan tidak mungkin terjadi gangguan atau perubahan kondisi teknis setelah kendaraan menjalani scrutineering, terutama setelah digunakan untuk melakukan uji coba lintasan.
Artinya, kondisi kendaraan saat diperiksa dalam scrutineering dan kondisi kendaraan beberapa waktu kemudian saat digunakan dalam perlombaan belum tentu identik.
Hal tersebut bukan berarti scrutineering tidak efektif, melainkan menunjukkan bahwa dalam olahraga otomotif, kondisi teknis kendaraan dapat berubah seiring penggunaannya.
Karena itu, salah satu hal yang menurut Rein perlu diperiksa dalam investigasi adalah kondisi kendaraan sesaat sebelum kecelakaan, bukan hanya kondisi kendaraan ketika pertama kali menjalani scrutineering.
Rein menekankan bahwa seluruh pandangan tersebut hanya merupakan analisis dari perspektif seorang pembalap, bukan kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan.
Analisis tersebut juga tidak dimaksudkan untuk mencari kesalahan atau menunjuk siapa yang harus bertanggung jawab.
Menurutnya, terlalu dini apabila kecelakaan langsung disimpulkan disebabkan oleh kesalahan pembalap, gangguan kendaraan, kondisi lintasan, ataupun faktor lainnya tanpa pemeriksaan teknis yang menyeluruh.
Justru dengan besarnya jumlah korban, seluruh kemungkinan harus dibuka dan diperiksa secara objektif.
Mulai dari kondisi sistem pengereman, ban, suspensi, kemudi, kondisi permukaan lintasan, desain lintasan, posisi penonton, pembatas keselamatan, hingga faktor lain yang mungkin berkontribusi terhadap kecelakaan. Rekaman video dari berbagai sudut juga dapat menjadi bahan penting untuk melihat beberapa detik sebelum kendaraan kehilangan kendali.
Tragedi di Kotamobagu ini tidak boleh hanya dilihat dari satu sisi. Olahraga balap memang identik dengan kecepatan dan adrenalin. Namun, semakin tinggi kecepatan yang digunakan, semakin tinggi pula standar keselamatan yang harus diterapkan.
Keselamatan bukan hanya menjadi tanggung jawab pembalap. Kendaraan, lintasan, pembatas, jarak aman penonton, petugas marshal, prosedur keselamatan hingga kesiapan panitia harus menjadi satu kesatuan sistem.
Karena itu, tragedi ini diharapkan dapat menjadi evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan olahraga otomotif, khususnya event yang menggunakan lintasan jalan atau kawasan yang berdekatan dengan masyarakat dan penonton karena keselamatan pembalap, panitia, kru dan terutama penonton harus tetap menjadi prioritas utama. (sob)