Yubileum, Pintu Suci, dan Transformasi Hati: Refleksi Pastor Windy Untuk Umat

SWARAMEDIA.COM – Pembukaan Tahun Yubileum yang berlangsung sejak Malam Natal 2024 hingga Hari Raya Epifani 2026 kembali menjadi tonggak penting perjalanan spiritual Gereja Katolik sedunia. Dengan tema besar Peziarah Pengharapan (Spes non Confudit) yang ditetapkan oleh Mendiang Paus Fransiskus, masa suci ini mengajak umat untuk memasuki ritme iman yang lebih mendalam melalui pertobatan, pembaruan diri, serta tindakan belas kasih.

Sejalan dengan pembukaan Yubileum, Porta Sancta, Pintu Suci yang secara tradisional menjadi lambang terbukanya rahmat Allah, menjadi pusat perhatian umat di berbagai tempat. Ribuan orang hadir, berharap mendapatkan pengalaman iman yang lebih kuat. Namun di tengah antusiasme itu, sejumlah tokoh Gereja mengingatkan bahwa makna Pintu Suci tidak boleh berhenti pada aspek ritual belaka.

Salah satu tokoh yang menegaskan hal tersebut adalah Pastor Windy Tangkuman, PR. Menurutnya, Porta Sancta bukan sekadar simbol liturgis yang dibuka secara seremonial, melainkan undangan bagi setiap orang untuk memasuki proses pembaruan rohani yang sungguh-sungguh.

Dalam wawancara khusus dengan swaramedia.com, Sabtu, (15/11) Pastor Paroki St. Petrus Rasul Warembungan ini menjelaskan bahwa sejak berabad-abad lalu, Porta Sancta telah menjadi refleksi konkret dari kemurahan Tuhan yang senantiasa membuka diri bagi manusia. Sejak tradisinya dimulai pada tahun 1300 oleh Paus Bonifasius VII di Roma, Pintu Suci ini dipahami sebagai tanda visual bahwa rahmat Allah selalu terbuka bagi mereka yang ingin kembali dan memperbarui hidup.

“Porta Sancta bukan sekadar pintu yang dibuka untuk perayaan. Di balik seluruh rangkaian liturginya, ada pesan yang sangat personal: Tuhan membuka diri-Nya, menunggu setiap insan untuk kembali,” ujarnya.
“Ketika umat berjalan melewati pintu itu, Gereja ingin kita ingat bahwa perjalanan batin jauh lebih penting daripada gerakan fisik.”

Ia menegaskan bahwa Yubileum selalu identik dengan pengampunan, pembebasan, dan kesempatan baru. Karena itu, melewati Porta Sancta harus dimaknai sebagai langkah melepaskan beban lama dan memasuki hidup yang lebih selaras dengan kehendak Allah.

Namun Pastor Windy juga mengungkapkan keprihatinannya. Ia melihat bahwa tidak sedikit umat mengikuti rangkaian Porta Sancta hanya sebagai rutinitas, semacam daftar hadir rohani yang dijalani tanpa kesadaran mendalam.

“Kita lihat ada orang datang hanya karena teman-teman datang. Ada yang mengikuti kegiatan hanya karena takut disebut tidak aktif. Bahkan ketika melewati Porta Sancta pun, banyak yang sekadar berjalan tanpa membiarkan hatinya ikut melangkah,” jelasnya.
“Padahal Yubileum adalah masa rahmat. Sayang kalau lewat begitu saja.”

Fenomena itu, katanya, bukan karena kurangnya devosi umat, tetapi karena mereka tidak cukup diajak memahami dimensi batin dari perayaan Yubileum. Ia menekankan pentingnya pendampingan agar umat menyadari bahwa setiap tindakan rohani mengandung pesan spiritual yang harus direnungkan.

Menurut Pastor Windy, inti dari Porta Sancta bukan terletak pada apa yang terlihat secara lahiriah, melainkan pada transformasi batin yang terjadi setelah umat melewatinya. Ia mengajak umat menjadikan momen ini sebagai tonggak evaluasi rohani yang jujur.

“Tanya dulu pada diri sendiri: apa yang ingin aku tinggalkan ketika melangkah melewati pintu itu? Apa yang ingin aku perbarui dalam hidupku? Kalau tidak ada pertanyaan semacam ini, kita hanya melakukan kegiatan, bukan berziarah,” tuturnya.

Ia juga menekankan bahwa melewati Porta Sancta merupakan kesempatan memperbarui hubungan dengan Tuhan, memperdalam doa, menerima sakramen tobat, dan memperbaiki relasi dengan sesama.

“Perjalanan melewati Pintu Suci hanya bermakna ketika kita membawa perubahan pulang. Mungkin itu kesabaran, kejujuran, atau kemampuan memaafkan. Apa pun itu, biarlah pintu itu menjadi titik awal,” tambahnya.

Selain sebagai simbol pertobatan, Porta Sancta juga disebutnya sebagai tanda persatuan Gereja universal. Umat dari berbagai daerah dan latar belakang datang dengan kerinduan yang sama: mencari damai dalam Allah.

“Ketika ribuan orang berjalan menuju pintu yang sama, itu mengingatkan kita bahwa kita satu tubuh. Kita membawa luka berbeda, tetapi mencari Tuhan yang sama,” ujarnya.

Menutup wawancara, Pastor yang dikenal akrab dengan umat ini berharap agar momentum Yubileum tidak hanya menjadi kegiatan ritual tahunan, tetapi menjadi pengalaman yang menggugah kedalaman iman pribadi.

“Saya berharap umat tidak hanya hadir untuk mengikuti keramaian. Hadirlah dengan hati yang terbuka. Biarkan Tuhan berbicara ketika kita melangkah melewati Pintu Suci. Bukan langkah kaki yang penting, tetapi langkah hati,” tegasnya.

Menurutnya, Yubileum adalah kesempatan langka bagi umat untuk menemukan kembali jati diri rohani mereka.

“Kalau kita melewatinya dengan kesadaran, percayalah, Tuhan akan melakukan sesuatu yang baru dalam hidup kita,” tutupnya.

Editor : Jemmy Mokoagouw