Ironi di Tanah Pencetak Juara, Atlet Bulu Tangkis Sulut Ikuti Kejurnas Malang dengan Dana Minim

SWARAMEDIA.COM. Sulawesi Utara yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah pencetak pemain bulu tangkis nasional, justru dihadapkan pada ironi serius. Sebanyak 13 atlet bulu tangkis Sulut yang mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Bulu Tangkis di Malang, Jawa Timur, pada 15–20 Desember, dilaporkan hanya menerima total dana Rp1.500.000 dari Pengurus Provinsi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Sulawesi Utara.

Dengan nominal tersebut, setiap atlet hanya memperoleh sekitar Rp115 ribu, jumlah yang dinilai jauh dari kata layak untuk mendukung perjuangan atlet di ajang nasional. Padahal, Kejurnas merupakan kompetisi bergengsi yang menjadi barometer prestasi sekaligus pintu menuju level nasional dan internasional.

Kondisi ini menuai kekecewaan dari pihak keluarga atlet. Salah seorang orang tua atlet, yang memilih tidak disebutkan namanya, menyayangkan minimnya perhatian terhadap atlet yang sedang membawa nama daerah.

“Sulawesi Utara ini bukan daerah baru di bulu tangkis. Banyak atlet nasional lahir dari sini. Tapi ironis, anak-anak kami berangkat ke Kejurnas dengan dukungan yang sangat minim,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan bahwa sebagian besar kebutuhan atlet selama Kejurnas di Malang justru ditanggung secara mandiri oleh keluarga.

“Kami patungan untuk biaya makan, transport lokal, bahkan perlengkapan. Mereka berjuang untuk daerah, tapi perhatian dari organisasi nyaris tidak terasa,” lanjutnya.

Sejumlah pemerhati olahraga menilai kondisi ini berpotensi memukul mental atlet, terutama atlet muda yang seharusnya mendapatkan dukungan penuh agar dapat tampil maksimal. Beban finansial dinilai dapat mengalihkan fokus atlet dari persiapan dan pertandingan.

Kritik tajam pun diarahkan kepada PBSI Sulawesi Utara. Sebagai induk organisasi, PBSI dinilai memiliki tanggung jawab moral dan organisatoris untuk memastikan atlet mendapatkan dukungan yang layak, terlebih Sulut selama ini konsisten melahirkan talenta bulu tangkis yang mengharumkan nama Indonesia.

Publik juga mendesak adanya transparansi anggaran dan evaluasi menyeluruh terhadap pola pembinaan atlet. Kejurnas seharusnya menjadi momentum pembuktian kualitas atlet daerah, bukan justru menampilkan potret keterbatasan yang berulang.

Hingga berita ini diturunkan, pihak PBSI Sulawesi Utara belum memberikan pernyataan resmi terkait minimnya dana yang diberikan kepada 13 atlet yang berlaga di Kejurnas Malang tersebut. (sob)