TOMOHON-SM. Langit yang semakin jarang menurunkan hujan mulai menjadi kekhawatiran bagi petani di Kota Tomohon.
Tanah yang biasanya lembap perlahan mengering. Tanaman yang sedang tumbuh tetap membutuhkan air, sementara musim kemarau datang lebih panjang dari yang diharapkan.
Bagi petani, kondisi ini bukan sekadar persoalan cuaca.
Ada benih yang sudah ditanam. Ada pupuk dan biaya produksi yang telah dikeluarkan. Ada waktu dan tenaga yang dicurahkan setiap hari. Semuanya bermuara pada satu harapan yakni panen yang baik.
Namun ketika air mulai terbatas, harapan itu pun menghadapi tantangan.
Persoalan tersebut mendapat perhatian aktivis lingkungan hidup Tomohon, Jefry Polii.
Polii mendorong agar kebutuhan air bagi petani mendapat perhatian serius, terutama dalam menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan. Menurutnya, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga tanaman tetap bertahan dan membantu petani mempertahankan produktivitas lahan mereka.
Sebagai aktivis lingkungan hidup, Jepol sapaan akrabnya menilai persoalan air tidak bisa dilepaskan dari bagaimana manusia memperlakukan lingkungan.
“Sumber-sumber air perlu dijaga. Kawasan yang menjadi daerah tangkapan air harus mendapat perhatian. Pemanfaatan air juga perlu dilakukan secara bijaksana, terutama ketika musim kemarau membuat ketersediaannya semakin terbatas,” terang Jepol.
Baginya, menjaga air bukan hanya berbicara mengenai kebutuhan hari ini tetapi ada kehidupan yang bergantung pada air. Ada lahan pertanian yang membutuhkan air, ada keluarga petani yang menaruh harapan pada hasil kebun mereka.
Karena itu, langkah antisipasi menjadi penting.
Jepol mendorong pemerintah untuk terus memperhatikan kondisi petani di lapangan dan melihat kemungkinan dukungan yang dapat diberikan apabila kebutuhan air mulai menjadi kendala.
Ia juga mengapresiasi perhatian Pemerintah Kota Tomohon terhadap sektor pertanian dan berbagai kebutuhan masyarakat. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, petani dan masyarakat sangat diperlukan agar persoalan yang muncul akibat kemarau dapat dihadapi bersama.
Terlebih Tomohon dikenal sebagai salah satu daerah dengan aktivitas pertanian yang cukup kuat.
Menurut Jepol, pertanian bukan hanya soal tanaman yang tumbuh di atas tanah. Di sana ada ekonomi keluarga, ada lapangan pekerjaan, ada kebutuhan pangan, dan ada kehidupan masyarakat yang ikut bergerak.
Karena itu, ketika air mulai berkurang, yang patut dipikirkan bukan hanya bagaimana tanaman mendapatkan air, tetapi juga bagaimana petani tetap memiliki alasan untuk bertahan.
“Kemarau mungkin merupakan siklus alam yang tidak bisa dihindari.
Tetapi dampaknya bisa dipersiapkan.
Di sinilah pentingnya perhatian sejak awal. Jangan menunggu sampai tanaman mengering, sumber air benar-benar menipis, atau petani mulai menghitung kerugian, baru langkah penanganan dilakukan.
Sebab bagi petani, setiap hari memiliki arti.
Satu tanaman yang layu mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang. Tetapi bagi petani, tanaman itu bisa menjadi bagian dari biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, atau modal untuk kembali menanam pada musim berikutnya,” terang ‘tuama’ Kumelembuai tersebut.
Jepol menambahkan, dibalik sepetak lahan yang tampak sederhana, tersimpan kerja keras yang tidak sedikit.
Petani menanam ketika belum tahu bagaimana cuaca akan berubah. Mereka merawat ketika belum tahu berapa harga hasil panen nanti. Dan mereka tetap berharap ketika langit mulai lebih lama menyimpan hujan.
Karena itu, perhatian terhadap air sesungguhnya adalah perhatian terhadap harapan.
Jepol yang juga merupakan Wakil Ketua DPRD Kota Tomohon itu juga berharap persoalan tersebut dapat terus menjadi perhatian bersama, bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat dalam menjaga sumber-sumber air dan lingkungan.
“Ketika air masih mengalir ke lahan pertanian, sesungguhnya yang sedang dialirkan bukan hanya air.
Ada kehidupan yang ikut dipertahankan. Ada hasil panen yang sedang diselamatkan. Dan ada harapan keluarga petani yang sedang dijaga agar tetap tumbuh” tandasnya. (sob)