Pidato Kenegaraan Presiden: Prabowo Paparkan 121 Kebijakan Transformatif dan Restrukturisasi BUMN

TOMOHON-SM. Wali Kota Tomohon Caroll J.A. Senduk menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kota Tomohon dalam rangka mengikuti secara langsung Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI, Jumat (14/8/2026).

Rapat paripurna yang berlangsung di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Tomohon tersebut dipimpin Ketua DPRD Tomohon Drs. Johnny Runtuwene, D.E.A., didampingi Wakil Ketua Donald Pondaag dan Wakil Ketua Jefri Polii, S.I.K.
Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Korwil BIN Tomohon Avons Sumenge, S.STP., Wakapolres Tomohon Kompol Stenly Mawidingan, S.Sos., Pabung Tomohon Mayor Cba Robby Rengkung, perwakilan Kejaksaan Negeri Tomohon, Sekretaris Daerah Kota Tomohon Edwin Roring, S.E., M.E., jajaran Pemkot Tomohon, LVRI, para pejuang serta insan pers.

Dari Jakarta, Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya menyoroti sejumlah capaian pemerintah selama 21 bulan masa pemerintahannya. Ia menyebut terdapat 121 kebijakan transformatif yang telah diputuskan dan dijalankan untuk menjawab berbagai persoalan nasional.
Menurut Presiden, kebijakan tersebut lahir dari keberanian pemerintah mengambil keputusan dan tidak berhenti pada persoalan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Salah satu sektor yang mendapat perhatian besar adalah pangan. Presiden menyampaikan Indonesia telah mencapai swasembada terhadap delapan komoditas, yakni beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar dan cabai rawit.
Capaian tersebut, kata Prabowo, diraih lebih cepat dari target awal yang diperkirakan membutuhkan waktu empat hingga lima tahun.

Pemerintah juga melakukan perubahan dalam tata kelola pupuk dengan menghapus 145 aturan penyaluran pupuk sekaligus menurunkan harga pupuk sebesar 20 persen.
Di sektor energi, pemerintah mengklaim Indonesia mulai memasuki fase swasembada solar melalui penerapan biodiesel B50. Presiden menyebut sejak 1 Juli 2026 Indonesia tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri, dengan penghematan devisa yang diperkirakan mencapai Rp170 triliun.
Namun Presiden mengingatkan pemerintah agar tidak menjadikan berbagai capaian tersebut sebagai alasan untuk berhenti bekerja.

“Ini bukan alasan untuk berpuas diri. Ini rangsangan untuk kita bekerja lebih keras lagi,” kata Prabowo.

BUMN Dipangkas, Efisiensi Didorong
Bagian lain yang menjadi sorotan dalam pidato Presiden adalah restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara.
Prabowo mengungkapkan, saat Danantara dibentuk, pemerintah menemukan terdapat 1.074 BUMN berikut anak dan cucu perusahaan. Jumlah tersebut dinilai terlalu besar dan menimbulkan lapisan birokrasi serta biaya yang tidak produktif.
Pemerintah kemudian melakukan perampingan. Sebanyak 290 BUMN disebut telah ditutup dan jumlah BUMN ditargetkan maksimal 300 perusahaan pada akhir 2026. Presiden menegaskan hanya perusahaan yang produktif dan mampu menciptakan nilai tambah yang akan dipertahankan. Langkah tersebut diproyeksikan mampu menghemat biaya overhead hingga sekitar Rp50 triliun setiap tahun. Penghematan itu selanjutnya diarahkan untuk investasi, industrialisasi, peningkatan pelayanan serta berbagai program yang manfaatnya dirasakan masyarakat.

Presiden juga memaparkan peningkatan laba sejumlah perusahaan negara sepanjang enam bulan pertama 2026. Semen Indonesia tercatat tumbuh 408,9 persen, Pupuk Indonesia 252,8 persen, Pertamina 86 persen, Pegadaian 84,4 persen, Pelindo 60,4 persen dan PTPN 54,4 persen.
Sementara laba BUMN pada 2025 disebut mencapai Rp326 triliun, naik 75,3 persen dibandingkan 2024. Setoran dividen BUMN kepada negara pada 2025 juga mencapai Rp142,3 triliun.

Hilirisasi dan Devisa Ekspor
Pemerintah juga menggenjot hilirisasi melalui sejumlah proyek strategis yang dilaksanakan melalui Danantara.
Sebanyak 13 proyek hilirisasi dilakukan groundbreaking pada Februari 2026 dan 13 proyek lainnya pada April 2026. Proyek-proyek tersebut mencakup pengolahan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME), hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, aluminium hingga proyek waste to energy.
Sementara itu, pemerintah mulai mengoptimalkan pengelolaan devisa hasil ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
Sejak beroperasi pada 1 Juni 2026, lembaga tersebut disebut telah mengelola devisa ekspor senilai USD14 miliar yang berasal dari tiga komoditas strategis.
Selain sektor ekonomi, Presiden juga memaparkan sejumlah program pemerintah yang menyentuh langsung masyarakat, seperti pembangunan 100 Kampung Nelayan Merah Putih, operasional 10.000 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih, Program Makan Bergizi Gratis, perbaikan 71.744 sekolah serta perluasan layanan Cek Kesehatan Gratis yang telah menjangkau 108 juta orang.

Bagi Prabowo, berbagai program tersebut tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah pusat. Pembangunan, menurutnya, membutuhkan kerja bersama antara lembaga negara, pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat.

Menutup pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan arah pembangunan pemerintah tidak semata-mata untuk mengejar hasil dalam satu periode pemerintahan.
“Kita tidak bekerja dan membangun untuk satu masa jabatan. Kita membangun untuk satu zaman. Kita membangun untuk satu abad Indonesia,” tegas Prabowo.

Dari Tomohon, rangkaian pidato kenegaraan tersebut diikuti bersama oleh jajaran pemerintah daerah, DPRD, unsur Forkopimda, para pejuang dan undangan lainnya. (sob)