MANADO-SM. Suasana duka menyelimuti keluarga besar Tanos-Tampi dan Tanos-Londa setelah kepergian tragis Alberto Joel Tanos, yang akrab disapa Joel, akibat tindak kekerasan keji yang merenggut nyawanya. Joel menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh dua pelaku, Evan Siging dan Abdul Muchlis Rawasi. Peristiwa memilukan ini tidak hanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, tetapi juga mengguncang hati masyarakat luas yang mengenal sosok Joel sebagai pribadi yang baik, hangat, dan penuh semangat hidup.
Namun, di tengah kepedihan yang seolah tak terperikan, keluarga menunjukkan sikap luar biasa yang menginspirasi banyak orang. Dalam acara malam penghiburan yang digelar pada Rabu malam, 6 Agustus, Oma dari Joel, Ibu Meyling Tampi yang akrab disapa Oma Joel, menyampaikan pesan yang menyentuh hati seluruh hadirin. Di balik air mata dan suara yang terbata, ia berdiri di hadapan para pelayat dengan ketegaran yang jarang terlihat dari seorang Oma yang baru saja kehilangan cucunya secara tragis.
“Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang Oma daripada harus melepaskan cucu yang sangat dikasihinya dalam kondisi seperti ini,” ujar Ibu Meyling dengan suara lirih namun penuh keyakinan. “Tapi kami percaya, segala sesuatu terjadi dalam kendali Tuhan. Kami tidak akan membiarkan kepedihan ini berubah menjadi kebencian. Kami belajar untuk menerima dan mengampuni, karena itu yang Tuhan ajarkan kepada kami.”
Ungkapan tersebut sontak membuat banyak orang meneteskan air mata. Dalam suasana duka yang mendalam, kata-kata pengampunan dan iman dari seorang ibu justru menjadi sumber kekuatan bagi mereka yang hadir. Beberapa jemaat dan sahabat keluarga bahkan menyatakan bahwa malam itu bukan sekadar acara penghiburan, melainkan juga menjadi momen refleksi spiritual yang mendalam tentang kasih, pengorbanan, dan ketulusan iman.
Ibu Meyling juga mengungkapkan bahwa meskipun keluarga sangat mengharapkan keadilan ditegakkan oleh aparat penegak hukum, mereka tidak ingin terjebak dalam dendam atau kemarahan. “Kami menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan kepada pihak berwenang untuk memproses kasus ini. Tapi satu hal yang pasti, kami tidak akan membiarkan rasa sakit ini menguasai hidup kami. Joel adalah anak yang penuh kasih, dan kami ingin mengenangnya dengan damai, bukan dengan kemarahan,” tambahnya.
Kata-kata itu disampaikan didepan jenazah dan foto Joel yang terlihat tersenyum, yang diletakkan di altar dan dikelilingi bunga-bunga putih dan cahaya lilin yang temaram. Momen tersebut menjadi simbol nyata keteguhan hati seorang ibu dan keluarga yang, di tengah gelombang kehilangan, tetap memilih kasih dan pengampunan.
Peristiwa tragis ini menjadi pengingat bahwa kekerasan hanya menyisakan luka dan kehancuran. Namun dari keluarga Joel, masyarakat menyaksikan bahwa kasih dan pengampunan adalah jalan yang membawa pemulihan, bahkan di tengah tragedi.
Hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh masyarakat, pemuka agama, sahabat-sahabat Joel, serta keluarga besar yang datang dari berbagai daerah. Mereka memberikan penghormatan terakhir dan turut mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, dan agar roh Joel beristirahat dalam damai. (sob)