TOMOHON-SM. Di tengah bentang alam yang indah namun menyimpan potensi bencana, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Tomohon kembali meneguhkan komitmennya dalam membangun kesiapsiagaan kemanusiaan. Hal itu ditandai dengan dibukanya Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Korps Sukarela (KSR) Angkatan III, yang digelar di Michi No Eki Pakewa, Tomohon, Selasa (16/12).
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Ketua PMI Kota Tomohon, drg. Jean’darc Karundeng, dan akan berlangsung selama lima hari, mulai 16 hingga 20 Desember 2025. Diklatsar ini menjadi bagian penting dari upaya regenerasi relawan PMI, sekaligus penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang kemanusiaan.
Ketua PMI Kota Tomohon drg. Jean’darc Karundeng melalui Ketua Bidang Diklat PMI Kota Tomohon, Fargo Tular, menjelaskan bahwa pelaksanaan Diklatsar KSR ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan nyata akan relawan yang terlatih dan siap siaga. Meski PMI Kota Tomohon telah memiliki korps sukarela sebelumnya, rekrutmen relawan baru tetap diperlukan agar kesinambungan pelayanan kemanusiaan terus terjaga.
“Ini merupakan Diklatsar KSR yang ketiga. Kami melihat kebutuhan akan relawan yang bukan hanya cukup jumlahnya, tetapi juga memiliki kualitas, kedisiplinan, dan pemahaman yang kuat tentang nilai-nilai kepalangmerahan,” ujar Fargo.
Ia menambahkan, secara topografis Kota Tomohon merupakan wilayah rawan bencana, terutama karena berada di kawasan dengan dua gunung berapi aktif. Kondisi tersebut menuntut kesiapan yang berlapis, baik dari pemerintah maupun unsur kemanusiaan seperti PMI.
“Relawan KSR adalah garda terdepan saat terjadi bencana. Mereka harus siap secara fisik, mental, dan pengetahuan. Karena itu, Diklatsar ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi juga proses pembentukan karakter dan empati,” lanjutnya.

Selain faktor kebencanaan, Diklatsar ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami arti pengabdian tanpa pamrih. PMI berharap para peserta mampu menumbuhkan rasa solidaritas sosial, kepekaan terhadap penderitaan sesama, serta kesadaran bahwa menjadi relawan berarti siap hadir di saat masyarakat paling membutuhkan.
Diklatsar KSR Angkatan III ini diikuti oleh 16 peserta, yang akan menerima pembekalan selama 77 jam pelajaran. Materi yang diberikan mencakup pengetahuan dasar kepalangmerahan, prinsip-prinsip kemanusiaan PMI, hingga pelatihan praktis berupa simulasi tanggap darurat yang dirancang mendekati kondisi nyata di lapangan.
Seluruh rangkaian kegiatan ini didukung melalui dana hibah PMI, sebagai bentuk tanggung jawab organisasi dalam meningkatkan kualitas relawan dan memperkuat pelayanan kemanusiaan di Kota Tomohon.
Melalui Diklatsar ini, PMI Kota Tomohon menaruh harapan besar agar para peserta tidak hanya lulus sebagai anggota KSR, tetapi juga tumbuh menjadi relawan yang berintegritas, tangguh, dan siap mengabdikan diri bagi kemanusiaan. Ke depan, para lulusan Diklatsar diharapkan mampu menjadi bagian penting dalam setiap respon kebencanaan, aksi sosial, dan pelayanan PMI di tengah masyarakat Tomohon. (sob)